Semburan Gas di Pesantren Pekanbaru

 Begini penampakan dari atas kerusakan pada gedung Pondok Pesantren Al Ikhsan Boarding School akibat semburan gas disertai lumpur dan batu di Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (5/2/2021).(Dok. PLTU Tenayan Raya Pekanbaru)



Terhitung sudah 11 hari, lokasi pengeboran sumur di sebuah Pondok Pesantren di Pekanbaru menyemburkan gas. Semburan yang pertama kali terjadi pada Kamis (4/2/2021) itu disertai material batu dan lumpur. Hingga hari kesepuluh, semburan gas masih terjadi. Hanya saja, intensitas semburan hingga bunyi gas cenderung menurun. Berikut catatan fenomena semburan gas di Pondok Pesantren di Pekanbaru, Riau.

Munculnya semburan gas pada Kamis (4/2/2021) disinyalir berasal dari aktivitas pengeboran sumur di pesantren itu. Lurah Tuah Negeri Syarifudin mengatakan, gas menyembur tiba-tiba ketika pengeboran sumur mencapai kedalaman 119 meter. Pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), kata Syarifudin, langsung menuju ke lokasi untuk mengecek. "Menurut kajian dari DLHK, ini semburan gas. Semburan gas ini terjadi ketika dilakukan pengeboran sumur bor,

Selain bangunan, material mirip abu vulkanik juga mematikan dedaunan pohon sawit dan pohon lainnya di sekitar lokasi. Jalanan ke arah pesantren sudah mulai berdebu.



Pesantren yang sebelumnya dihuni 34 santri ini sudah kosong. Pengurus mengevakuasi santri ke pesantren induk yang juga berada di Kota Pekanbaru demi keselamatan peserta didik.

Lokasi ini hanya berjarak beberapa meter dari tempat operasional PT Energi Mega Persada EMP) Bentu. Perusahaan ini bergerak dalam bidang minyak dan gas serta memiliki sumur tak jauh dari lokasi.

Pihak perusahaan sudah memasang tanda bahaya di sekitar lokasi. Sejumlah orang berpakaian alat pelindung diri perusahaan berada di lokasi untuk mencari cara menghentikan semburan itu.

Menyebur pada Kamis siang, 4 Februari 2021, semburan itu pada malamnya mengeluarkan dentuman keras. Ini diakui salah satu warga bernama Tria kepada wartawan.

agus mengaku tidak bisa tidur karena dentuman itu. Pasalnya suara diikuti semburan material lumpur dan batu itu terjadi beberapa kali.agus mengaku tidak bisa tidur karena dentuman itu. Pasalnya suara diikuti semburan material lumpur dan batu itu terjadi beberapa kali.

"Ada yang bunyinya kayak mercon, kami gak bisa tidur karena takut ada ledakan lebih besar," kata agus.

agus juga menyebut nafasnya terganggu karena debu dari sumber ledakan. Apalagi debu itu mulai masuk ke rumah karena tersapu angin di udara ataupun sapuan kendaraan yang lewat..

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Riau sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengatasi semburan gas ini. Untuk sementara, pemerintah meminta warga yang tinggal dekat dengan lokasi mengungsi.

"Sekarang sudah mengeluarkan lumpur, gasnya berbahaya bagi warga sekitar," kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Pemprov Riau, Chairul Riski.

Karena potensi ledakan, warga pun tidak diperkenankan mendekati lokasi semburan. "Kita sudah tarik ke depan lagi garis batas aman. Karena kondisi saat ini sangat berbahaya dan berpotensi meledak. Ledakan bisa saja dipicu oleh sinyal handphone dan sumber api lainnya. Makanya sekarang tidak boleh mendekat ke lokasi," kata Darwin.

kemarin kawan-kawan dari PT EMP Bentu tengah mempersiapkan mapping untuk peralatan sambil menunggu perizinan dari Kementerian ESDM untuk pelaksanaan penutupan lubang semburan gas ini," kata Indra, saat diwawancarai dyasxp.com di lokasi, Jumat (12/2/2021). "Untuk penutupan kami masih tunggu alat. Nanti lumpur begitu disiram dengan air akan keluar. Kalau lumpur sudah habis baru ditutup dengan semen. Semoga besok kita sudah diizinkan untuk penutupan," pungkas Indra.

Memasuki hari kesepuluh, semburan gas sudah menurun, bahkan bisa dilihat melalui jarak dekat. Menurut pantauan dyasxp.com, tak ada lagi material lumpur yang disemburkan. Meski demikian, Indra meminta agar masyarakat tak datang ke lokasi semburan. Sebab, sejak fenomena semburan gas terjadi cukup banyak masyarakat yang penasaran hingga mendatangi lokasi. 



"Kami minta masyarakat tidak usah sampai ke lokasi. Cukup dilihat dari berita yang ditayangkan teman-teman media saja," ujar dia.   Sedangkan terkait penutupan lubang semburan, akan segera dilakukan setelah mendapatkan izin dari Kementerian ESDM. "Kami harap secepatnya dapat ditutup. Tergantung dari evaluasi perkembangan semburan. Untuk saat ini memang sudah sangat jauh menurun, dan tidak ada lagi lumpur yang menyembur," ujar Indra.

Kalau kami lihat secara keilmuan kemudian seperti data yang ada di Dinas ESDM, ini potensinya karena dangkal dan tingkat semburannya sudah menurun dari hari ke hari sampai sangat mengecil. Jadi, ini memang potensinya kemungkinan gas rawa," kata Ketua IAGI Riau, Irdas Amanda Muswar, Jumat (12/2/2021). Ia meminta pemerintah daerah bekerja sama dengan ESDM memikirkan mengenai data wilayah yang berpotensi menyemburkan gas.

 "Tapi kalau saya lihat lebih ke risikonya. Artinya untuk ke depannya kali ya, kalau perlu ada data yang bisa memperlihatkan daerah gas rawa di mana saja. Sehingga, bisa memetakan daerah-daerah bahaya yang ada di Riau. IAGI pun mungkin bisa bekerja sama dengan ESDM untuk membantu melihat potensi gas di Riau," ucap Irdas. 

"Kita tahu Riau memiliki potensi gas, jadi saya rasa perlu ada regulasi yang mengatur hal ini. Saya rasa sudah ada, tapi mungkin perlu kita menerapkan itu dan supaya tidak terjadi lagi kejadian seperti ini dan supaya lebih aman. IAGI Riau siap dan berkewajiban juga membantu pemerintah daerah untuk melihat potensi bahaya yang ditimbulkan oleh gas liar,"


>

Post a Comment

Previous Post Next Post